Rabu, 07 November 2012

Kandungan QS. Al-Kautsar



 إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ (1) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (2) إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ (3)
Artinya :
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. (1) Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. (2) Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus. (3)”

            Surah al-Kautsar turun sebelum Nabi Muhammad hijrah ke Madinah. Oleh karena itu surat ini tergolong sebagai surat Makiyah. Terdiri dari 3 ayat dan merupakan wahyu ke-14 atau ke-15. Ia turun setelah surat al-‘Adiyat dan sebelum at-Takatsur. Al-Kautsar artinya nikmat yang banyak. Namun ada juga yang mengartikannya sebagai sungai di surga. Nama lain dari al-Kautsar adalah an-Nahr.
            Surat al-Kautsar turun berkaitan dengan ejekan kaum kafir Quraisy terhadap diri Nabi Muhammad saw. Mereka mengatakan bahwa keturunan beliau tidak akan banyak dan tidak berlanjut. Hal ini mereka lakukan ketika salah satu putra beliau meninggal dunia. Sebagai budaya orang Arab, garis keturunan seseorang diturunkan melalui anak lelaki bukan anak perempuan. Dan pada saat itu, keturunan Nabi Muhammad yang masih hidup adalah anak-anak perempuan. Inilah yang menyebabkan beliau diejek sebagai orang yang tak berketurunan. Padahal dari Fathimah az-Zahrah yang bersuamikan Ali bin Abi Thalib, Nabi Muhammad mempunyai dua orang cucu : Hasan dan Husein. Dan kedua cucu beliau mempunyai anak-cucu. Ini berarti bahwa keturunan beliau tidak terputus.
            Melalui surat ini Allah ingin membantah tudingan kaum Musyrikin yang ditujukan kepada Nabi Muhammad. Bahkan sebaliknya, karena tudingan tersebut rahmat dan karunia Allah kepada mereka akan diputus, sebagai hukuman terhadap mereka. Bantahan ini merupakan salah satu bentuk karunia Allah kepada Nabi Muhammad yang patut untuk disyukuri.
            Disamping nikmat diatas, Allah juga telah dan akan terus menganugerahkan nikmat kepada beliau. Oleh karena itu, sudah sepantasnyalah beliau bersyukur kepada-Nya. Adapun bentuk syukur yang Allah perintahkan kepada Nabi Muhammad saw adalah dengan beribadah kepada-Nya. Yakni, menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Dan ibadah yang paling besar nilainya dihadapan Allah adalah shalat dan berqurban.
            Shalat menjadi bukti keimanan kita kepada Allah. Sedangkan berqurban adalah tanda ketaatan kita kepada-Nya. Sebagai seorang mukmin yang mengaku beriman dan patuh kepada Allah belum bisa dipercaya sebelum mendapatkan ujian. Dan belum sempurna keimanan seseorang sebelum mendapatkan ujian dari Allah. Karena iman adalah kepercayaan yang diucapkan dan dibuktikan dalam perbuatan. Oleh karena itu setiap orang mukmin pasti akan mendapatkan ujian dari Allah, sebagaimana firman Allah berikut ini:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155)
Artinya :
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,” (QS. Al-Baqarah [2]: 155)
            Dari ayat diatas, jelas sekali bahwa setiap orang mukmin pasti akan diberikan cobaan oleh Allah. Dan cobaan itu datang dalam dua bentuk, yaitu musibah dan kenikmatan. Adapun dalam bentuk musibah adalah perasaan takut, kelaparan, kekurangan harta, ditinggal oleh orang yang kita cintai dan lain-lain. Sedangkan dalam bentuk kenikmatan diantaranya yaitu : rezeki yang melimpah, anak keturunan yang baik, bentuk badan yang rupawan dan lain sebagainya.
            Pernyataan ayat diatas membantah anggapan kaum kafir yang mengatakan bahwa cobaan itu hanya berupa sesuatu yang tidak menguntungkan dan itu adalah penghinaan dari Tuhan. Sedangkan kenikmatan (rezeki) bukan merupakan tanda kemuliaan yang Ia limpahkan kepada mereka. sebagaimana firman Allah :
فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِي (15) وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ (16)
Artinya :
“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: "Tuhanku telah memuliakanku. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: "Tuhanku menghinakanku". (QS. Al-Fajr [89] : 15-16)

Kandungan QS. At-Takatsur



أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ (1) حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ (2) كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (3) ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (4) كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ (5) لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ (6) ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ (7) ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ (8)
Artinya :
Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, (1) sampai kamu masuk ke dalam kubur.(2) Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), (3) dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. (4) Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, (5) niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, (6) dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan `ainulyaqin, (7) kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).(8)”

      Surat at-Takatsur merupakan surat Makiyah. Kata “at-Takatsur” diambil dari ayat pertama yang mempunyai arti bermegah-megahan. Ia terdiri dari 8 ayat dan memiliki beberapa nama selain al-Takatsur yaitu : alhakum (telah melalaikanmu) atau al-Maqabir (tempat pemakaman).
      Surat ini menggambarkan tentang orang-orang yang suka berlomba-lomba untuk mengumpulkan harta. Mereka merasa bangga jika harta yang mereka punya melebihi yang lain. Kecintaan dan kebanggan mereka terhadap harta membuat lupa kepada Allah dan lingkungan sekitarnya. Bahkan persaingan tersebut terus mereka lakukan sampai kematian menjemput (dikubur). Hal ini terjadi karena mereka tidak pernah puas dengan apa yang telah didapatkan. Dahaga mereka baru terpuaskan jika telah mendapatkan harta dan kedudukan yang tinggi. Meskipun untuk mencapainya harus menghalalkan segala cara dan menafikan syariat agama. Demikianlah gambaran jika seseorang telah terpesona dengan kehidupan duniawi, sebagaimana firman Allah berikut:
زُيِّنَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَيَسْخَرُونَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ اتَّقَوْا فَوْقَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ (212)
Artinya :
Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (QS. Al-Baqarah [2] : 212)
      Dan dalam sebuah hadis qudsi, mereka digambarkan sebagai berikut : “Seandainya seorang manusia (yang lengah) memiliki dua lembah penuh emas, niscaya pasti ia masih menginginkan lembah ketiga, tidak ada yang memenuhi rongga putra-putri Adam kecuali tanah.”
      Menurut Prof. Dr. M. Quraish Shihab, selain persaingan mencari harta, dalam Al-Qur’an ada tiga hal yang menyebabkan manusia lalai, yaitu:
1.      angan-angan kosong
2.      peniagaan dan jual beli
3.      harta dan anak
      Peringatan dan teguran yang Allah sampaikan melalui utusan-Nya tidak akan pernah bisa membuat mereka sadar. Dan dakwah yang disampaikan oleh para ulama dianggapnya sebagai angin lalu. Padahal apa yang mereka lakukan sebenarnya tidak akan menjadikan mereka bahagia. Dan tidak sampai kepada hakikat dan kehidupan yang sejati, yaitu kebahagian ukhrawi (di akhirat) kelak. Yang terjadi adalah sebaliknya, musuh mereka akan bertambah seiring dengan ambisinya.
      Dan apa yang mereka perebutkan tidaklah sebanding dengan kenikmatan yang akan didapat di akhirat kelak. Seandainya mereka memahami makna kehidupan akhirat, tentulah mereka tidak seperti itu. Kehidupan duniawi hanya sementara, sedang kehidupan akhirat kekal selamanya.
      Mereka baru akan menyadari kesalahannya ketika dimasukkan ke dalam neraka jahim. Dan ketika diminta pertanggunggjawaban atas harta dan karunia yang telah Allah berikan. Pada hari itu mereka akan ditanya tentang kenikmatan yang mereka kumpulkan dan banggakan semasa hidup di dunia. Mereka juga akan diminta untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginannya.  Kemudian selanjutnya akan mendapatkan balasan sesuai dengan yang telah mereka lakukan di dunia. Sebagaimana firman Allah berikut :
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (8
Artinya :
Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.”(QS. Al-Zalzalah [99] : 7-8)

Kandungan QS. Al-Maun




أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ (1) فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ (2) وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ (3) فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (4) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (5) الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ (6) وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ (7)
Artinya :
“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? (1) Itulah orang yang menghardik anak yatim, (2) dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. (3) Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (4) (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya, (5) orang-orang yang berbuat ria. (6) dan enggan (menolong dengan) barang berguna.(7)

      Surat al-Ma’un terdiri dari 7 ayat. Diturunkan di Mekah dan termasuk surat Makiyah. Kata “al-Maun” diambil dari ayat terakhir yang berarti barang berguna. Surat Al-Ma’un mempunyai beberapa nama, yaitu : ad-Din (agama, pembalasan), at-Takdzib (dusta/ kebohongan), al-Yatim (anak yatim), dan ara’aita (tahukah kamu). Surat ini adalah wahyu ke-17 yang diterima Nabi Muhammad. Ia turun setelah surat al-Takatsur dan sebelum al-Kafirun.
      Surat ini turun berkaitan dengan salah seorang kaum Kafir Mekah yang setiap minggu menyembelih seekor unta. Suatu ketika, seorang anak yatim datang meminta sedikit daging yang telah disembelih itu. Namun, ia tidak diberinya bahkan dihardik dan diusir.
      Menurut al-Biqa’i, surat ini diturunkan sebagai peringatan bagi mereka yang mengingkari datangnya hari kebangkitan. Karena pengingkaran terhadap hari kebangkitan adalah sumber dari segala kejahatan. Dan akan mendorong manusia untuk melakukan berbagai akhlak yang buruk dan melecehkan kebajikan.
      Surat al-Ma’un menjelaskan tentang beberapa bentuk sikap dan perbuatan yang dapat digolongkan sebagai mendustakan agama. Perbuatan-perbuatan tersebut adalah :
a.       Menghardik anak yatim dan tidak mau menolong orang miskin yang sedang kelaparan. Mereka disebut demikian karena menduga bahwa berbuat baik kepada anak yatim dan membantu orang miskin tidak menghasilkan apa-apa. Ini berarti mereka mengingkari adanya hari pembalasan. Padahal agama memerintahkan untuk percaya kepada datangya hari pembalasan. Dan orang yang mengingkari adanya hari pembalasan biasanya akan berlaku seenaknya. Dan perbuatan dosa telah menjadi teman hidupnya yang berujung pada kerugian, baik untuk dirinya maupun orang yang ada di sekitarnya. Dan pada akhirnya akan membuat kerusakan tatanan masyarakat yang lebih luas.
b.      Mereka yang melalaikan makna shalatnya. Yaitu mereka yang melaksanakan shalat hanya bertujuan untuk riya’ dan mencari pujian orang lain. Perbuatan riya inilah yang menyebabkan manusia kemudian menjadi sombong. Mereka lupa bahwa shalat adalah ibadah yang bertujuan menghilangkan sifat sombong tersebut. Oleh karena itu sifat riya digolongkan sebagai perbuatan syirik kecil, sebagaimana sabda Nabi Saw :
اَخْوَفُ مَا اَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ، فَسُئِلَ عَنْهُ فَقَالَ : الرِّيَاءُ      
      Artinya :
“Sesuatu yang sangat aku takutkan akan menimpa kalian ialah syirik kecil. Nabi lalu ditanya apa itu syirik kecil, kemudian beliau menjawab : riya.” (HR. Ahmad)
            Perbuatan riya’ dikatergorikan sebagai syirik kecil karena di dalamnya mengandung sifat takabur (sombong). Dan orang yang sombong adalah orang yang memuji dirinya sendiri secara berlebihan. Sehingga meniadakan keberadaan Allah yang merupakan sumber dari semua yang ia banggakan. Seakan-akan semuanya adalah hasil usahanya sendiri bukan dari Allah.
            Sebab yang kedua sehingga seseorang dianggap telah melalaikan makna shalat adalah enggan memberikan pertolongan kepada orang yang membutuhkan.  Menurut Prof. Dr. Quraish Shihab, yang dimaksud dari kata al-Ma’un dalam ayat ini adalah bantuan yang kecil sifatnya. Sehingga menurut beliau memberikan bantuan yang kecil saja mereka enggan, apalagi bantuan yang besar. Alangkah kikirnya orang yang demikian.
            Kedua hal diatas merupakan tanda-tanda tidak menghayati makna dan tujuan shalat. Karena sesungguhnya shalat berisikan doa (permohonan). Orang yang berdoa berarti menyatakan dirinya lemah dan butuh bantuan. Oleh karena itu tidak pantas bagi mereka yang shalat untuk berbuat riya’ dan enggan memberikan bantuan kepada orang yang membutuhkan. Padahal mereka sendiri adalah orang-orang yang membutuhkan pertolongan Allah. Sungguh orang yang seperti ini tidak tahu diri. Sama-sama membutuhkan pertolongan namun tidak mau menolong sesama yang membutuhkan.
                  Jadi, dapat disimpulkan bahwa seseorang dianggap telah menjalankan shalat dengan sempurna apabila telah memenuhi dua syarat berikut:
o   ikhlas melakukannya karena Allah
o   merasakan kebutuhan yang dirasakan orang-orang lemah dan bersedia membantu mereka
Dengan demikian, semakin jelas bahwa agama Islam menuntut kebersihan jiwa, kepedulian terhadap lingkungan sekitar dan kerjasama antara sesama makhluk Allah. Karena tanpa itu semua, mereka yang shalat pun akan dinilai sebagai orang yang telah mendustakan agama dan mengingkari hari kebangkitan.


Kandungan QS. Al-Humazah



            Allah telah memberikan banyak sekali kenikmatan dan karunia kepada manusia. Akan tetapi banyak manusia yang lupa bahwa semuanya adalah berasal dari Allah. mereka menganggap karunia tersebut adalah hasil dari usahanya sendiri. Sehingga mereka menjadi serakah dan tidak mau berbagi dengan orang lain. Mereka juga menjadi orang yang sombong dan suka merendahkan orang lain. Padahal dalam karunia yang mereka dapat terselip hak orang lain.
           
وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ (1) الَّذِي جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ (2) يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ (3) كَلَّا لَيُنْبَذَنَّ فِي الْحُطَمَةِ (4) وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْحُطَمَةُ (5) نَارُ اللَّهِ الْمُوقَدَةُ (6) الَّتِي تَطَّلِعُ عَلَى الْأَفْئِدَةِ (7) إِنَّهَا عَلَيْهِمْ مُؤْصَدَةٌ (8) فِي عَمَدٍ مُمَدَّدَةٍ (9)
Artinya :
“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, (1) yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya,(2) dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, (3) sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah.(4) Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (5) (yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan, (6) yang (membakar) sampai ke hati.(7) Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka, (8) (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang.(9)”

            Kata “al-Humazah” diambil dari ayat pertama berarti pengumpat. Surat al-Humazah terdiri dari 9 ayat. Surat ini diturunkan di kota Mekah sehingga dikategorikan sebagai surat Makiyah. Surat ini juga sering disebut dengan surat “wail li kulli” atau “al-Huthamah”.
            Surat al-Humazah merupakan wahyu ke-31 yang diterima oleh Nabi Muhammad. Ia turun sesudah surat al-Qiyamah dan sebelum surat al-Mursalat.
            Surat ini berisi tentang ancaman terhadap dua perbuatan yang dilakukan karena tidak peduli dengan lingkungan sekitar yaitu :
  1. mengumpat dan mencela orang lain.
      Mengumpat dan mencela adalah perbuatan yang dilakukan karena didasari rasa sombong. Mereka yang melakukan perbuatan ini merasa dirinya lebih tinggi dari orang yang diumpat atau dicelanya. Mereka juga mempunyai perasaan bahwa dirinya adalah orang yang benar dan mulia. Padahal bisa jadi orang dihinanya itu lebih baik darinya. Sebagaimana firman Allah :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ ... (11)
Artinya :
“Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri…”(QS. Al-Hujurat [49] : 11)
      Dalam ayat diatas dikatakan bahwa jika kita mencela seseorang maka sesungguhnya kita telah mencela diri kita sendiri. Hal ini karena biasanya orang yang mencela orang lain disebabkan rasa iri hati dengan sesuatu yang dimiliki orang lain. Ini menunjukkan bahwa dialah yang sebenarnya lebih rendah dari yang dicelanya. 
      Termasuk juga ke dalam perbuatan ini adalah menggunjing dan membicarakan sisi negatif seseorang dibelakang yang bersangkutan. Perbuatan yang seperti dinamakan juga ghibah, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw :
اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص. قَالَ : أَتَدْرُوْنَ مَا الغِيْبَةُ؟ قَالُوْا اللهُ وَرَسُوْلُهُ اَعْلَمُ، قَالَ ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ، قِيْلَ أَفَرَاَيْتَ اِنْ كَانَ فِي اَخِي مَا اَقُوْلُ ، قَالَ اِنْ كَانَ فِيْهِ مَا تَقُوْلُ فَقَدْ اغْتَبْتَهُ وَاِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ فَقَدْ بَهَتَّهَ (رواه مسلم)
Artinya :
“Sesungguhnya Rasulullah saw bersabda : tahukah kalian apa itu ghibah? Para sahabat menjawab : Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui. Beliau berkata : kamu membicarakan saudaramu (orang lain) apa yang tidak ia senangi, beliau ditanya : bagaimana jika saudaraku itu memang seperti yang aku katakan. Nabi menjawab : jika ia seperti yang kamu katakan, maka kamu lebih menggunjingnya. Dan jika tidak sesuai maka kamu lebih membuat kebohongan besar mengenainya.” (HR. Muslim)
      Namun menurut Quraish Shihab, ada beberapa ghibah yang dibolehkan selama memenuhi salah satu syarat dibawah ini :
-          mengadukan penganiayaan yang dialami seseorang kepada pihak yang dapat mengatasi penganiayaan itu.
-          Mengharapkan bantuan dari seseorang agar selamat dari perbuatan jahat orang lain.
-          Menyebutkan keburukan dalam rangka meminta fatwa keagamaan.
-          Menyebutkan keburukan orang dengan maksud peringatan kepada orang lain agar tidak menjadi korbannya.
-          Membicarakan perbuatan buruk seseorang yang telah melakukannya dengan terang-terangan dan tanpa malu.
-          Memberinya ciri tertentu sehingga membuatnya lebih mudah dikenali.

  1. menumpuk harta
      Menumpuk harta merupakan salah satu sebab yang membuat seseorang mengumpat atau mencela orang lain. Mereka merasa bahwa harta membuatnya lebih tinggi dari orang lain. Mereka lupa bahwa harta yang dimiliki adalah berasal dari Allah.
      Mereka juga menganggap bahwa harta yang mereka miliki akan selamanya berada dalam genggamannya. Mereka lupa bahwa ketika kematian menjemput, harta yang dimiliki tidak akan menemaninya. Oleh karena itu tidak salah kalau Allah menginggatkan kita agar berhati-hati dengan harta yang dimilki, sebagaimana firman Allah :
وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ (28)
Artinya :
“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. Al-Anfal [8] : 28)
      Dalam ayat diatas harta dianggap sebagai sebuah fitnah. Karena harta dapat menjerumuskan manusia ke dalam kesesatan. Peringatan Allah ini berkaitan dengan kecenderungan manusia yang mencintai kehidupan dunia beserta isinya. Sebagaimana firman Allah :
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ (14)

Artinya :
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak  dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran [3] : 14)
      Orang yang menumpuk harta dan tidak mau berbagi dengan orang lain lupa bahwa harta tersebut belum tentu mereka manfaatkan. Padahal menurut Ibnu Khaldun, seorang filosof muslim, mengatakan bahwa harta baru dinamakan rezeki ketika harta itu dapat dimanfatkan. Namun ketika tidak dimanfaatkan maka belum rezeki namanya. Dan yang dimaksud dimanfaatkan disini adalah digunakan oleh kita sendiri maupun oleh orang lain. Jadi bila kita mempunyai makanan, baju, uang dan lain sebagainya namun tidak kita manfaatkan itu berarti belum rezeki kita.
      Dan balasan bagi mereka yang suka mencela dan menumpuk harta adalah neraka huthamah. Yaitu neraka yang menyala-nyala yang mampu membakar sampai ke bagian terdalam tubuh manusia (hati).