Rabu, 07 November 2012

Kandungan QS. Quraisy



            Allah telah menciptakan dunia beserta isinya untuk manusia. Sebagai khalifah fil ‘ardl, manusia diberikan hak yang luas untuk mengatur dan menggunakan seluruh isinya. Karunia yang besar ini hendaklah kita syukuri dengan selalu beribadah kepada Allah. Sehingga kita tidak tergolong sebagai hamba yang kufur terhadap nikmat-Nya.
            Disamping itu, hendaknya kita tidak serakah dan melupakan makhluk Allah yang lain. Karena sebagian karunia yang Allah berikan terdapat hak yang lain. Meskipun dalam mendapatkannya kita bersusah payah dan tanpa bantuan orang lain.  

لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ (1) إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ (2) فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ (3) الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ (4(
Artinya :
“Karena kebiasaan orang-orang Quraisy (1) (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas.(2) Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Kakbah).(3) Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan. (4)”

            Surat Quraisy termasuk surat Makiyah karena diturunkan di kota Mekah. Nama surat diambil dari kalimat akhir dalam ayat yang pertama. Menurut Nabi Muhammad Saw. surat ini merupakan salah satu dari tujuh karunia yang Allah berikan kepada kaum Quraisy.  Dari segi urutan turunnya, surat Quraisy adalah surat ke-29. Ia turun sebelum surat at-Tin dan al-Qari’ah dan terdiri dari 4 ayat.
            Kata Quraisy adalah gelar dari an-Nadhr bin Kinanah, Kakek Nabi Muhammad yang ketiga belas. Hampir semua penduduk Mekah adalah keturunan Quraisy dan merupakan anak turun dari Nabi Ismail bin Ibrahim As. Dalam Tafsir al-Misbah, Prof. Dr. Quraish Shihab menjelaskan bahwa Quraisy berasal dari kata al-Taqarrusy yang artinya keterhimpunan. Namun ada juga berpendapat berasal dari kata Qarasya yang berarti berusaha dan mencari.
            Dalam surat ini, Allah mengingatkan kaum musyrikin Mekah agar mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan kepada mereka. Bentuk dari rasa syukur itu adalah beribadah kepada-Nya. Namun mereka lupa karena kebiasan untuk bepergian dan terlena dengan rasa aman yang mereka dapatkan saat dalam perjalanan. Pada musin dingin, kebiasan mereka bepergian ke negara Yaman dan ke Syam (Syiria dan Lebanon) pada musim panas.
            Masyarakat Mekah dikagumi dan ditakuti oleh masyarakat sekitarnya, karena mereka adalah pemelihara dan penjaga Ka’bah yang diagungkan oleh Arab dan sekitarnya. Karena itu, keamanan orang Mekah, terutama kaum Quraisy, sangat terjamin. Baik saat berada di Mekah maupun dalam perjalanan ke luar kota. Penghormatan itu semakin bertambah sejak dibinasakannya pasukan gajah oleh Allah yang hendak menghancurkan Ka’bah.
            Karena jaminan kemanan dan keuntungan material yang mereka raih bersumber dari Allah, maka hendaknya mereka, kaum Quraisy, hanya menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah). Rumah (Ka’bah) yang telah membuat mereka mendapatkan dua keuntungan tersebut. Tuhan itulah yang telah memberi mereka makan setelah lapar, padahal mereka tinggal di lembah yang tandus. Dan yang telah memberikan rasa aman dari ketakutan sementara penduduk di sekitar mereka saling merampok dan membunuh.
            Dua kenikmatan di atas, tersedianya makanan dan jaminan keamanan, adalah dua hal yang sangat penting bagi kebahagiaan masyarakat. Jika salah satu tidak ada maka akan terjadi kekacauan dalam masyarakat. Orang yang kelaparan cenderung untuk menghalalkan segala cara. Sehingga tidak tercipta keamanan. Begitu juga sebaliknya, orang tidak akan dapat mencari makan jika kondisi tidak aman. Dua hal tersebut merupakan impian setiap orang dan patut disyukuri dengan beribadah kepada Allah. Dan dua hal inilah yang dimohonkan oleh Nabi Ibrahim saat datang ke Mekah :
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلًا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَى عَذَابِ النَّارِ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ (126
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: "Dan kepada orang yang kafir pun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali". (QS. Al-Baqarah : 126)
            Kedua hal itu pula yang hingga kini dibutuhkan dan diusahakan oleh setiap pemerintah sebuah negara di dunia ini. Dan yang pertama yang mereka lakukan adalah dengan meningkatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Tidak ada komentar: